Sudah belasan hari meninggalkan tahun lalu—2011—hingga aku menulis ini. Masih teringat dengan jelas, bagaimana 2011 menjadi tahun yang setidaknya ingin ku enyah jauh. Namun nurani menepis dengan halus akan rencana Tuhan yang kan indah pada waktunya. Dan hidup pun terus berlanjut.
Kehilangan orang yang begitu kita cintai tentu membekas hebat dalam benak. Pertama ayah, lalu sepupu tercinta. Seketika semua orang di sekeliling berusaha menabahkan, menguatkan, dan memberi dorongan. Tentu hal itu menjadi energi tersendiri meski seringkali aku terkonotasi menjadi ‘yang terkasihani’. Namun dalam kondisi apapun, mereka—orang yang kita cintai—tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Ingatan akan mereka dan hal yang ku sebut ‘kehangatan keluarga’ menjadi suatu pelajaran berharga yang cukup senantiasa kita jaga. Sederhana. Sesederhana itu pula alasan mengapa aku tetap menyungging senyum dan bertahan.
Benar, peristiwa besar itu justru ada dalam keseharian. Belum terlambat untuk kembali menata hal-hal yang seringkali terabaikan. Di antara kesibukan kota dan kegilaan masing-masing orang pada interest mereka, pasti ada tempat di mana mereka akan kembali dan itu keluarga. Buatku, Family is always be priority. Aku selalu ingat kata-kata ayah sebelum beliau wafat, “Kita ini tim. Wajib bagi masing-masing dari kita untuk saling bantu, saling menyayangi, dan saling berbagi,”